Laman

Translate

Tampilkan postingan dengan label jelajah arsitek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jelajah arsitek. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Mei 2013

"10 TIPS BERUSAHA DI BIDANG ARSITEKTUR BAGI PEMULA"

Tips ini adalah hasil dari penjelajahan saya selama bertahun-tahun, berusaha dalam bidang arsitektur. Yang patut dicatat adalah, “Saya tidak lebih baik dari Anda,” oleh karena itu sebetulnya saya hanya ingin berbagi pengalaman saja, berharap mendapatkan umpan-balik, semacam diskusi dalam ruang kecil ini. Adapun saya menggunakan kata ‘Tips’, semata-mata hanya untuk bermain-main dengan mesin pencarinya Mbah Google.
Ada sebuah ungkapan yang mungkin sudah klise “Bermimpilah, dan mulailah dari apa yang Anda bisa lakukan” walaupun klise, saya tetap meyakini ungkapan ini masih memiliki sisi-sisi positifnya.
Kemudian, sebelum anda membaca tips ini, bahwa tips ini diluar perdebatan apakah “Arsitektur itu komoditas atau bukan komoditas”, arsitektur tetaplah arsitektur dengan berbagai wacana, dan fenomena yang melingkupinya.

Rabu, 01 Mei 2013

INTERAKSI SEORANG ARSITEK DENGAN KOMPUTER DALAM P...

JELAJAH ARSITEK DAN ARSITEKTUR: “INTERAKSI SEORANG ARSITEK DENGAN KOMPUTER DALAM P...: oleh: barokahselalu Perdebatan mengenai apakah seorang arsitek itu seorang operator komputer?; Apakah arsitek itu harus pandai menggamb...

“INTERAKSI SEORANG ARSITEK DENGAN KOMPUTER DALAM PROSES MERANCANG”

Perdebatan mengenai apakah seorang arsitek itu seorang operator komputer?; Apakah arsitek itu harus pandai menggambar?; Apakah arsitek zaman sekarang wajib menguasai keterampilan mengoperasikan aplikasi computer seperti, AutoCad, 3DMax, SketchUp, Archicad, Lightworks Rendering (Engine Rendering Standard Archicad), atau Adobe Photoshop (Editing File JPEG); Adalah perdebatan yang sebetulnya harus kita sikapi secara arif, walaupun tidak menutup kemungkinan pendapat itu berujung kepada kesinisan, terutama bagi yang tidak menyukainya atau memahaminya.
Keberadaan aplikasi-aplikasi komputer bagi arsitek ini bukan tanpa sebab;
  1. setidaknya diperkuat oleh tuntutan bisnis yang mengharapkan kecepatan menyelesaikan pekerjaan tanpa harus pusing dengan kemampuan asli seorang arsitek dalam cara mencetuskan idea/gagasannya. Ini adalah realitas yang pertama harus dipahami oleh seorang arsitek. 
  2. Realitas kedua, dalam dunia awam tentang produk arsitektur, sepertinya merespon positif keberdaan hasil rancangan seorang arsitek yang disajikan dengan menggunakan aplikasi-aplikasi komputer . Mereka melihat bahwa hasilnya lebih nyata, lebih hidup  dan lebih dimengerti oleh kebanyakan klien yang awam dengan proses merancang. Jadi hasil akhir produk karyanya arsitek sangat penting untuk diketahui sekaligus dipahami oleh seorang klien, terlepas dari bagaimana cara arsitek mempresentasikannya, apakah dengan menggunakan komputer atau tidak, sepertinya tidak terlalu penting untuk diketahui secara detail oleh klien. Pada titik inilah, telah merangsang seorang arsitek untuk menggunakan aplikasi komputer, selain dapat mempercepat pekerjaannya, juga hasilnya lebih mudah dipahami oleh seorang klien.
  3. Realitas ketiga, sepertinya arsitek tidak tampak ‘Gaul’ jika tidak menguasai teknologi-teknologi komputer, terutama soal aplikasi yang dapat mendukung pekerjaanya. Jadi, cara pandang zaman sekarang, soal seseorang disebut arsitek ‘Tua’ atau ‘Muda’ itu telah bergeser dari yang dulunya diurut berdasarkan durasi kepraktisiannya, menjadi dikelompokan berdasarkan kemampuannya dalam urusan pandaitidaknya mengoperasikan aplikasi-aplikasi komputer yang terkait dengan penyajian karya seorang arsitek. Sepertinya realitas ini tidak ilmiah sama sekali, tapi itulah yang dinamakan realitas, tak’harus bersandar pada metodenya.
Untuk memahami lebih lanjut dari istilah ‘Interaksi” dalam konteks komputer, dan ‘Merancang’ dalam konteks pekerjaan arsitek, dapat kita lihat dari gejala kesejamanannya.
Dalam dunia komputer kita mengenal apa yang disebut dengan Man-Machine Interface(MMI), yang mulai diperkenalan sekitar tahun 70an, maka kemudian kita mengenal produk  “antarmuka pengguna(user interface)”, sepuluh tahunan kemudian, kita baru familiar dengan istilah “Interaksi Manusia dengan Komputer(IMK)” atau human-computer interaction(HCI). HCI adalah; “…sebagai disiplin ilmu yang berhubungan dengan perancangan, evaluasi, dan implementasi sistem komputer interaktif untuk digunakan oleh manusia dan studi tentang fenomena di sekitarnya,(Oky,undip).”
Jika kita memahaminya melalui perspektif kesejamanan abad 21, yang disebut dengan sifat interdisipliner, dimana ilmu komputer bertemu dengan ilmu sosial atau pisikologi.
Kemudian bagaimana dengan istilah ‘Merancang’ dalam arsitektur; “Perancangan adalah usulan pokok yang mengubah sesuatu yang sudah ada menjadi sesuatu yang lebih baik, melalui tiga proses mengidentifikasi masalah, mengidentifikasi metoda untuk pemecahan masalah, dan pelaksanaan pemecahan masalah Dengan kata lain adalah pemograman, penyusunan rancangan, dan pelaksanaan rancangan, (John Wade,1997)”
Dengan alasan bahwa HCI terkait dengan perancangan, evaluasi, dan implementasi sistem komputer interaktif untuk digunakan oleh manusia dan studi tentang fenomena di sekitarnya, maka bertemulah dengan Si Arsitek sebagai pengguna yang sedang berproses untuk menciptakan karya arsitektur  membutuhkan teknologi yang dapat mempermudah kerjanya pada tahap pemograman dan penyusunan rancangan(sebetulnya tidak terlalu jauh bedanya ketika zaman ‘Mesin gambar’ yang menggunakan ‘otot’, sementara aplikasi interface semacam ini menggunakan ‘otak’). Setidaknya pada titik ini manfaat aplikasi interface dapat membantu kemunculan karya arsitektur sebagai sebuah karya yang dihasilkan melalui pemprosean, terlepas dari ada tidaknya tindak kejahatan intelektual seorang arsitek yang memanfaatkan kemudahan dan kebergunaan aplikasi ini untuk tindakan ‘Copas’ (copy-paste), kemudian ‘Edit’.
Ditinjau dari segi karakteristik perancang;
  1. Karakter gaya lama (Metoda lama), yaitu seperti ‘blackbox’; Arsitektur itu terlahir dari sebuah proses kreatif tak terlihat seperti kotak gelap, unik(setiap arsitek bisa beda); Hasil perancangan sangat tergantung intuisi, masukan pengalaman, ilham, imajinasi, dilakukan dengan  trial & error; Saat merancang sangat bergantung kepada ketersediaan waktu, mood, imajinasi; Seringkali pikirannya melompat-lompat, karena persoalannya dianggap rumit untuk ditransformasikan menjadi hal yang terlalu sederhana.
  2. Kemudian ada karakter gaya baru (Metoda baru), yaitu yang dianggap lebih rasional, seperti ‘Glassbox’, cara ini umumnya menjadi basis pengajaran di prodi Arsitektur pada umumnya, dimana; Penetapan tujuan, variabel, dan kriteria, merancang ada di awal, sebelum beranjak ketahapan yang lain; Kemudian diadakan proses Analisis, jika dianggap perlu bisa dilakukan pengujian, sebelum mengambil kesimpulan;  Semua evaluasi tidak menggunakan gaya ‘Coba-coba’ seperti trial and error; Pemilihan strategi ditetapkan dengan logis, biasanya sekuensial, lintas parallel, kondisional, siklus ulang.
Walaupun saya tidak terlalu percaya 100% dengan metode rasional seperti ‘Glassbox’ ini bisa sukses menghasilkan karya arsitektur. Sekalipun itu diyakini oleh banyak prodi arsitektur.
Saya termasuk penikmat karya John ChristopherJones(1950) "A Systematic Design Method", yang memberikan pencerahan bagaimana mengintegrasikan persoalan rasionalitas dan intuisi dalam merancang, Baginya, desainer membutuhkan cara untuk dapat keluar dari fokus pada ekspresi dan mode produksi dan mulai mengatasi definisi dari masalah yang harus dipecahkan. Dia berkomentar bahwa;
"pekerjaan masa depan desainer adalah untuk memberikan substansi ide-ide baru sementara menghilangkan pondasi fisik dan organisasi yang lama. Dalam situasi ini, itu adalah omong kosong untuk memikirkan merancang sebagai kepuasan persyaratan yang ada. kebutuhan baru tumbuh dan kebutuhan tua mengalami pembusukan ... "
Lalu apa hubungannya karakter seorang perancang(arsitek) dengan komputer?. Dalam tulisan ini saya hanya membatasi hubungan karakter arsitek dalam merancang dengan HCI. Salah satu kekuatan yang dapat diandalkan dari penggunaan aplikasi komputer berupa softwear yang dapat membantu pekerjaan arsitek adalah kemampuan’Memori’yang melebihi kemampuan memori manusia, file-file yang terdigitasi dapat dilihat sewaktu-waktu jika dibutuhkan, sebagai bahan evaluasi perjalanan proses merancang, tanpa harus ‘garuk-garuk’ kepala mengingatnya, selain soal kecepatannya. Dengan pemahaman seperti ini, saya kira, kita bisa menghindari pendapat yang sinis, menyatakan “Ini Hanya Pekerjaan Drafter”.
Seperti kita membayangkan, apakah hanya orang yang sedang mengendarai BMW saja yang boleh menggunakan GPS?, bagaimana jika anda mengendarai motor untuk mencari alamat seseorang?, apakah tidak boleh menggunakan GPS?. Di Jogja, seorang tukang becak, sudah terbiasa mengantarkan turis dengan panduan GPS, yang terinstal di telepon genggamnya. Jadi saya kira, sudah sewajarnya seorang arsitek berlomba adu cepat dengan tukang becak mengayuh semangat menuju kepada peradaban ‘Human-computer interaction(HCI)’.
Kembali kepada hubungan karakter perancang dengan komputer, setidaknya dapat kita cermati dari:
  1. Manusia memiliki keterbatasan untuk mengingat apa yang sudah dilakukannya dalam proses merancang. Biasanya seorang arsitek, gemar membuat sketsa-sketsa kecil untuk sekedar merekam apa yang terlintas dalam imajinasinya. Tiap-tiap arsitek memang berbeda karakter dalam merancang, tergantung dari bagaimana caranya untuk melihat realitas pada dirinya. Tidak bisa dipungkiri bahwa terkadang, intuisi, ilham, atau imajinasi lebih cemerlang memandang tujuan akhir dari perancangan karyanya, datang melintas dari alam pikirannya, sehingga membutuhkan kecepatan untuk merekamnya menjadi sebuah ide/gagasan yang lebih mirip dengan kenyataan nantinya. Disinilah sebetulnya bagaimana aplikasi-aplikasi komputer dapat dipergunakan untuk mewujudkan intuisi seorang arsitek yang datangnya tidak terkira, dapat sewaktu-waktu keluar dari dalam benak arsitek dan harus segera di ‘save’, dan masuk kedalam folder ‘Evaluasi’ berikutnya.
  2. Dalam hal sensitifitas bentuk dan warna yang menyerupai alam nyata, aplikasi-aplikasi ini belum bisa tertandingi oleh kemampuan pewarnaan seorang arsitek dalam ‘Sketsa perspektif’ yang sudah direndering sekalipun, selain membutuhkan waktu yang relatif lebih lama, juga tingkat akurasi kemiripannya sangat tergantung ‘mood’nya Si arsitek. Untuk pekerjaan-pekerjaan bisnis yang membutuhkan kecepatan, saya kira, untuk era sekarang, sudah ketinggalan zaman kalau menyalahkan ‘Mood’ belum keluar dari benak Si arsitek, hanya untuk sekedar membuat gambar freehand 3D, misalnya. 
  3. Pertentangan itu terjadi biasanya ketika seorang arsitek terlalu menyandarkan permasalahan perancangan kepada metode perancangan yang berbasiskan rasionalitas, kecerdasan, atau berlandaskan kepada konsep. Kehadiran aplikasi-aplikasi interface semacam ini dianggap menandingi kemampuan kecerdasannya. Jadi semacam pergumulan batin; Disatu sisi gambar-gambar yang terdigitasi adalah produk rasional sementara disisi lain ‘Merasa lebih cerdasnya,’  enggan tertandingi oleh komputer. Pergumulan seperti ini, menurut hemat saya adalah pergumulan sia-sia, jika tidak ingin terlindas oleh kemajuan zaman. 
  4. Bagi arsitek yang senang bereksperimen ‘Trial and error’, aplikasi-aplikasi semacam ini sungguh sangat membantu memorinya, agar tak’tertelan penyakit ‘lupa’ yang memang sudah ada dari ‘sononya’ melekat pada diri manusia. Selain itu, dari segi kecanggihannya dapat diandalkan menggambarkan ide/gagasan yang mirip dengan kenyataanya, sehingga dia bisa langsung melompat kepada pemikiran proses pembangunannya dan masalah apa saja yang harus dihadapi pada tingkat pelaksanaan. Akan lebih baik lagi jika didukung oleh softwear untuk membuat RABnya, menjadi semangkin lengkap untuk mendekati kenyataanya. Selain itu, cara pengoperasiannya yang ‘User friendly (ramah dengan pengguna)’, atau mudah dioperasikan, dan memiliki sejumlah kemampuan lain, yang menjadikan Si arsitek merasa ‘betah’ dalam mengoperasikan program tersebut, bahkan untuk seorang pengguna pemula sekalipun.
Walaupun pada akhirnya kemajuan teknologi itu pasti memiliki sisi-sisi dampaknya, disatu sisi berdampak baik; Untuk memepecepat pekerjaan dan mempresentasikan hasil gagasannya dalam bentuk yang lebih mirip kenyataan; Juga tak’mungkin dapat menghindari kenginan seseorang untuk mempelajari berbagai softwear yang berkaitan dengan presentasi gambar arsitektur, baik itu dilakukan oleh kalangan arsitek sendiri, atapun bukan dari kalangan arsitek, Seperti juga dalam pandangan ilmu-ilmu positif, ‘Untuk menjadi arsitek itu, tidak harus punya bakat’ menjadi arsitek, karena bakat sifatnya genetic, sementara ilmu-ilmu positif menganggap semua orang bisa menjadi arsitek, karena dengan pendekatan rasionalitasnya dapat dipelajari oleh semua orang. Demikian pula dengan gejala kemajuan teknologi komputer, memungkinkan seorang yang hanya lulusan ‘SMK’ dengan atau tanpa bakat, kemudian melakukan pekerjaan yang diulang-ulang dapat menyajikan karya disain yang umumnya dilakukan oleh seorang arsitek(dalam pandangan perancangan untuk menghasilkan komoditas), melalui bantuan aplikasi-aplikasi softwear arsitektur yang terinstal didalam komputernya. Sepertinya tidak ada yang salah, karena memang sekarang zamannya. Disisi yang lain, patut dicurigai(banyak terjadi) sebetulnya, adalah tindakan seorang arsitek yang melakukan kejahatan intelektual dengan memanfaatkan aplikasi-aplikasi softwear arsitektur, ketimbang mengalihkan opini ke ‘Arsitek operator komputer’, kemunculan istilah ‘Arsitek gadungan!’ atau ‘ngaku-ngaku arsitek!’.
Kesimpulannya :
  1. Perubahan cara menyajikan gambar arsitektur yang ditandai dengan kemunculan teknologi berbagai program aplikasi komputer di bidang arsitektur, yang menggantikan sketsa tangan(freehand maupun dengan mesin gambar) seorang arsitek dalam memvisualkan gagasannya, telah membuka kemungkinan pengguna komputer yang lebih luas. Hal itu terjadi karena program-program ini telah belajar dan berangkat dari bagaimana karakteristik pemroses informasi oleh seorang arsitek dalam merancang, termasuk didalamnya mempelajari bagaimana struktur prilaku arsitek, pola alamiah, dan prasyarat phisik-fisiologis.
  2. Saat ini kehadiran komputer dengan program aplikasi komputer di bidang arsitektur, sudah tidak dapat dilepaskan dari dunia bisnis dan industri abad 21. Siapapun yang terutama bergerak dalam bisnis perarsitekturan, dan dengan kemajuan teknologi yang selalu ‘Update’ dan Upgrade’, yang selalu memecahkan masalah pengguna dalam operasi komputer untuk bisnis, pada akhirnya akan mengarah kepada tidak perlu susah-susah memikirkan bagaimana cara berinteraksi dengan komputer, tetapi yang penting justru bagaimana mengoptimalkan komputer untuk dapat digunakan sebagai mesin yang membantu ‘Berpacu dalam dunia bisnis’, seperti analogi menggunakan mobil atau motor, kita tidak perlu memikirkan bagaimana cara mesin itu bekerja.
  3. Dalam konteks ‘Human Information Processing’ yang ada dalam HCI, pada akhirnya semua arsitek, suka tidak suka akan menggunakan berbagai program aplikasi untuk membantu proses perancangannya, karena pendekatan karakteristik arsitek sebagai pemores informasi, adalah basis dari kebergunaan/kemanfaatan aplikasi-aplikasi ini bagi seorang arsitek, seperti untuk mengetahui dan mempelajari model-model arsitektur kognitif, teori tentang memori, persepsi, kemampuan motorik, dan motivasi. Sehingga kehadirannya tidak mungkin ditolak, kehadirannya semata-mata untuk keamajuan teknologi komputer, kemudian diterima oleh dunia praktis/bisnis dan memberikan umpan-balik atas kemajuannya dan bermanfaat bagi kemajuan dunia praktis/bisnis.
Mudah-mudah tulisan ini menjadi semacam pencerahan dan tidak mengurangi kreatifitas kita dalam merancang, dengan atau tanpa menggunakan program aplikasi, atau mau menggunakan motede merancang seperti apa, semua kembali kepada bagaimana cara kita melihat realitas diri kita sendiri dalam setiap/sedang melakukan proses perancangan arsitektur.

Senin, 29 April 2013

ARSITEKTUR ITU MENYENANGKAN

Oleh : barokahselalu

Tulisan ini hanyalah sebuah pandangan lain tentang bagaimana seorang arsitek dalam penghidupannya, terutama bagi arsitek yang hidup di Indonesia. Membaca tulisan ini tidak membutuhkan rujukan, semacam;KodeEtik Arsitek dan Kaidah Tata Laku Profesi Arsitek, karena dalam pandangan tulisan ini menempatkan arsitektur bukanlah sebuah profesi absolut, tapi sebuah panggilan jiwa, tidak juga ‘karier’, karena arsitektur adalah cara hidup dari seorang arsitek, diantara cara-cara hidup lainnya. Arsitektur adalah semangat membangun peradaban. Oleh karenanya makna arsitektur tidak bisa disempitkan hanya kedalam ranah profesi. Pandangan ini bukan tanpa alasan, karena banyak arsitek telah terjebak kedalam pemikiran profesi dan komoditas. Jangan heran jika informasi tentang ‘Keluhan menjadi arsitek’ yang berbasiskan komoditas, menumpuk di media sosial atau di jejaring internet.
Di Indonesia memang tidak terlalu menarik untuk meneliti kehidupan seorang arsitek, kalah menariknya dengan mewacanakan Undang-undang arsitek. Tapi sebetulnya ‘Kegalauan’ menyoal profesi yang satu ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Katakanlah itu Negeri Paman Sam (Amerika); Bagi Christopher N. Henry dalam archdaily.com, “Arsitektur tidak memungkinkan membuat kehidupan seorang arsitek itu hidup layak." Benar atau tidaknya pernyataan ini sebetulnya juga masih relatif, kalah hebat dengan pandangan tradisi kita pada umumnya, “Kalau rejeki itu tidak pernah salah saku.”  
Menurut laporan “National Survey on Drug Use and Health(NSDUH)” banyak arsitek mengalami depresi, kemudian terjerembab kedalam penyalahgunaan zat-zat aditif dan mengalami gangguan kesehatan mental. Dalam laporannya membandingkan arsitek dan insinyur dengan profesi/pekerjaan lainnya, menemukan kecenderungan lebih tinggi menderita depresi, walaupun laporan ini masih dipertanyakan; Memasukan arsitek dalam kelompok insinyur dan surveyor. Sama kejadiannya jika arsitek dikelompokan dalam profesi artis, dimana tingkat perceraian menjadi tinggi, setidaknya begitu yang saya tafsirkan dari “National Endowment for the Arts (NEA).” Terlepas dari pendapat dan akurasi matematisnya, setidaknya profesi yang satu ini sudah masuk dalam daftar yang patut dicurigai. Menyoal soal depresi, sangat mungkin terjadi, mengingat tidak berimbangnya antara pendapat seorang arsitek dengan tuntutan kehidupan ‘Gaya arsitek’.
Lebih kacau lagi jika harus percaya dengan ucapan Profesor Robert Sapolsky, seorang ahli neuroendocrinologist, primata, dan ahli terkemuka dalam penyakit kejiwaan seperti depresi dan stres, menulis, "… Jika Anda ingin meningkatkan peluang hidup lebih panjang dan sehat, jangan miskin!!…" Jadi, membicarakan soal ‘Umur, kaya atau miskin’, rasanya itu tidak relevan, karena berada diluar konteks dan kendali arsitek. Tapi sepertinya tidak juga dapat dikesampingkan begitu saja, mungkin benang merahnya dapat kita telusuri melalui status sosial. Pertanyaan selanjutnya “Dalam kelompok apa status sosial arsitek?.” Yang sudah terlanjur mendapat predikat ‘Wah’ dimata masyarakat kita.
Sampai pada titik ini, saya-pun menjadi bingung untuk menjawabnya, “Tak’semudah mengatakannya melalui bahasa tulisan.”
Tapi saya meyakini bahwa dukungan sosial dari pasangan kita dapat menurunkan kadar glukokortikoid, hormon stress, karena gejala-gelala penyakit sosio-ekonomik ini lebih dulu lahir dari dalam keluarga(internal), baru kemudian faktor eksternal. Setidaknya ketahanan sosial yang berbasiskan keluarga jauh lebih menentramkan jiwa ketimbang harus percaya kepada pendapatnya Sapolsky.
Di Indonesia ini memang agak membingungkan, tingkat depresi mental itu masih tabu untuk diungkapkan secara gamblang, namun kita dapat menelusurinya melalui gaji seorang arsitek(bekerja di perusahaan konsultan), dari arsitek pengalaman nol tahun hingga arsitek pengalaman sepuluh tahunan, kisaran gajinya dari 2juta sampai dengan 4juta-an, dengan pendapatan yang demikian, besar kemungkinan dapat memicu ‘stres’ jika patokannya berdasarkan nilai uang dalam satu wilayah(Jakarta), dibandingkan dengan pandangan ‘wah’ oleh masyarakat. Agak beruntung, jika bekerja di perusahaan yang cukup mapan, biasanya untuk jabatan tertentu mendapat mobil dari perusahaan, dan untuk semua jabatan pada umumnya akan mendapat bonus akhir tahun atau bonus prestasi. Agak miris memang, jika Arsitektur dipertaruhkan dalam meja bisnis dan profesi. Bagi yang tidak beruntung, sepertinya harus percaya pada angka-angka yang disajikan oleh BPS(Badan Pusat Statistik) menyoal pengangguran dengan pendidikan sarjana, walaupun tidak spesifik menyebutkan angka dan dari sarjana apa saja. Dalam dunianya yang mau tidak mau sarat dengan nuansa komoditas, arsitektur memang terpaksa harus berhadapan dengan ‘Rupiah’. Tapi sepertinya tidak untuk NEA, walaupun penelitian ini bukan untuk Indonesia, mengklaim bahwa dalam masa resesi, tingkat pengangguran arsitektur cenderung menjadi yang terendah di antara semua pekerjaan dalam kategori Artis NEA. Dalam pemikiran saya mungkin saja memprediksi arsitektur menjadi salah satu pasar terbesar pertumbuhan di masa depan, lebih pada konteks art atau seni, semisal industri kreatif yang berbasiskan pada produk-produk keahlian mandiri.
Lebih dari soal prediksi-memprediksi melalui angka statistik dan atau terlalu mendengar banyak pakar dan lembaga survey, sepertinya untuk arsitek yang ada di Indonesia memang tidak luput dari sorotan masyarakat menyangkut status sosial, kemudian berubah menjadi ‘merasa miskin’, dan berakhir dengan stress. Yang jadi pertanyaan itu apakah profesi arsitek itu panggilan atau keterpaksaan? Tidak mudah untuk menjawabnya, semua relative, tergantung situasi dan kondisi, tergantunng ruang dan waktu.
Terlepas dari sifat kerelatifannya, apakah profesi ini panggilan atau keterpaksaan, dalam pandangan ketimuran; “Bukan alasan yang kuat mengorbankan, keluarga, rumahtangga, kekerabatan sosial, kesejahteraan, dan kesehatan mental, demi arsitektur dalam konteks profesi arsitek.” Dan tidak juga untuk melarikan diri dari arsitektur yang sudah tertanam dalam jiwa.
Arsitektur itu bukan hanya persoalan menyelesaikan masalah perancangan, tapi dia juga harus berhadapan dengan masalah pisikologis dirinya. Apakah menjadi sebuah pekerjaan yang menyenangkan atau sebaliknya. Berkaitan dengan pisikologis seorang arsitek, paling tidak ada tiga hal yang terkait dengan masalah kesehatan mental yang harus dijaga oleh seorang arsitek :
  1. Narcissistic itu adalah gangguan kepribadian (Personality Disorder). Bersifat introvet, berpusat pada diri sendiri, apalagi jika sudah ada karyanya yang sedikit saja diakui, kemudian asyik berfantasi atas keberhasilannya, kemudian mulai mencari perhatian orang lain agar melihat karyanya(diluar batas-batas kenormalan mengharapkan penyangjungan). Hubungan menjadi interpersonal terganggu karena kurang empati(padahal factor interpersonal sangat dibutuhkan oleh arsitek abad 21), tanpa timbal-balik empati(memaksa orang lain untuk melakukan yang terbaik untuknya, tanpa keinginan untuk berempati membalas kebaikannya), menegasikan saling menghargai dan menghormati. 
  2. Masochistik, sikap sadistik, baik kepada orang lain maupun kepada dirinya sendiri, biasanya dalam perusahaan terjadi penekanan yang sifatnya mengancam secara halus kepada bawahannya untuk memaksakan gagasannya diluar batas-batas kenormalan, bahkan dirinya akan merasa puas menjadi obyek yang disakiti melalui pekerjaan-pekerjaan arsitekturnya.
  3. Obsessive-Compulsive Disorder, itu semacam gangguan kecemasan (Anxiety Disorder): pikiran-pikiran yang ‘kekeh irasional’, yang tanpa Ia sadari datang secara reflek tak terkendali, seperti bertanya berulang-ulang dalam pertanyaan yang sama, mondar-mandir melihat pekerjaan perancangannya, terobsesi dengan hasil pekerjaannya yang belum nyata terlihat, sehingga muncul rasa ragu yang ekstrim, ketakutan ketidakberhasilan, hingga ketidakmampuan mengambil keputusan.
 Kesimpulannya;
  1. Jika kita ingin menjadi Arsitek yang mencintai arsitektur tanpa Phobia, ubah cara berpikir, secara medis memang ini gangguan pada otak, tapi sebetulnya kita sudah sadar berdasarkan pengalaman berarsitektur, masalah kecemasan memang tidak mudah untuk dikesampingkan begitu saja, ditambah dengan berbagai sorotan sosial dan tuntutan profesi. Meminjam kata-kata bijak Mario Teguh, “Kekuatan terbesar yang mampu mengalahkan stress adalah kemampuan memilih pikiran yang tepat. kita akan menjadi lebih damai bila yang kita pikirkan adalah jalan keluar masalah.” 
  2. Karya Arsitektur yang baik bukan lahir dari arsitek yang terpenjara oleh istilah ‘Profesi dalam institusional’. Pekerjaan arsitektur bukan keterpaksaan dalam penderitaaan jiwa oleh karena itu tidak ada keharusan untuk melebih-lebihkan(hyper) pekerjaan ini diatas pekerjaan-pekerjaan lainnya. Sikap professional, proposional, situasional, dan kondisional, adalah kata lain dari pandai melihat ke-diri-annya yang berada dalam realitas keluarga dan masyarakat.
  3. Seperti tidak ada bedanya membayangkan seorang arsitek yang memiliki banyak cara untuk mengejar penghidupannya diluar profesi arsitek dalam pandangan tradisional sebagai perencana dan perancang. Banyak pilihan turunan dari profesi ini yang boleh dinikmati oleh seorang arsitek, tanpa harus terkena penyakit kecemasan. Ini bukan soal sambi-menyambi(karena setiap pekerjaan menuntut konsekuensi logisnya/sikap profesionalisme), tapi ini soal hidup dan penghidupan yang dapat menghalau kecemasan, sehingga itu menjadi sebuah pekerjaan yang menyenangkan.
  4. Jangan membolak-balikan teori Abraham Maslow tentang segitiga piramida ‘Kebutuhan Manusia’, jika itu yang kita lakukan, maka bukan bentuk segitiga piramida yang kita lihat, melainkan kekacauan bentuk yang menghasilkan kecemasan tanpa ujung.
  5. Banyak arsitek yang sering menggunakan kata-kata bombastis, seperti: under-estimate dengan kata “Drafter” seolah-olah sebuah pekerjaan yang “…Gimana,gituuu!!”, padahal menurut sepengalaman saya hampir semua perusahaan besar pernah menjadi “drafternya Bule!”, kemudian supaya ‘keren’, dia menghaluskan kata itu menjadi DED(detail engineering design), atau mulai dengan sikap kecemasannya merasa malu jika diketahui oleh rekan lainnya, sehingga tindakan ‘Ngaku-ngaku’ mulai diwacanakannya. Menurut hemat saya ini adalah sebentuk penyakit jiwa. Jika anda mau sehat, lakukan semua itu dengan perasaan riang/menyenangkan, setiap pekerjaan adalah amanah dalam kerangka tugas kemanusian kita dihadapan Allah sebagai penentu rejeki.
  6. Dengan kemajuan zaman dibidang teknologi komputer, maka melahirkanlah berbagai softwear yang bisa menggantikan tenaga manusia, bukan saja soal ‘tenaga’ yang tergantikan, ditandai dengan kemunculan AutoCad, juga soal ‘nilai rasa’, seperti keahlian yang dulunya dinamakan ‘Gambar Perspektif’, menjadi gambar 3D plus rendering. Satu persatu semua tugas arsitek yang dulunya mengandalkan rasa dan intuisi akan tergantikan dengan softwear-softwear komputer. Yang jadi pertanyaan, “Kenapa kemajuan teknologi ini melahirkan kecemasan baru,” dibarengi dengan istilah-istilah “Itu bukan Arsitek, itu operator computer”, atau “Arsitek gadungan”. Realitasnya hampir semua perusahan menuntut keahlian ini, plus mempersyaratkan lulusan sarjana/D3. Jadi untuk apa meributkannya, sehingga menambah kegaduhan atas kemunculan ‘Barang-barang baru’, kenapa tidak memilih untuk mengenalnya “Tak’kenal maka tak’sayang,”, tidak ada istilah tercela dengan kata ‘Operator komputer’, kembali meminjam kata-kata bijak Mario Teguh “Orang lanjut usia yang berorientasi pada kesempatan adalah orang muda yang tidak pernah menua ; tetapi pemuda yang berorientasi pada keamanan, telah menua sejak muda.” 
Hidup hanya sepanjang napas, kenapa harus memenjarakan diri kepada ‘Profesi arsitek’ dalam arti sempit dan tradisional, bahkan mengkotakan diri dalam institusional, bukankah arsitek membutuhkan ‘Kebebasan’, dimana sebetulnya menjadi keharusan untuk melahirkan karya arsitektur dari arsitek-arsitek yang sehat, sehingga diharapkan dapat menorehkan karya emasnya dalam peradaban manusia.