Perdebatan mengenai apakah seorang arsitek itu
seorang operator komputer?; Apakah arsitek itu harus pandai menggambar?; Apakah
arsitek zaman sekarang wajib menguasai keterampilan mengoperasikan aplikasi computer
seperti, AutoCad, 3DMax, SketchUp, Archicad, Lightworks Rendering (Engine
Rendering Standard Archicad), atau Adobe Photoshop (Editing File JPEG); Adalah
perdebatan yang sebetulnya harus kita sikapi secara arif, walaupun tidak
menutup kemungkinan pendapat itu berujung kepada kesinisan, terutama bagi yang
tidak menyukainya atau memahaminya.
Keberadaan aplikasi-aplikasi komputer bagi arsitek
ini bukan tanpa sebab;
- setidaknya
diperkuat oleh tuntutan bisnis yang mengharapkan kecepatan menyelesaikan pekerjaan
tanpa harus pusing dengan kemampuan asli seorang arsitek dalam cara mencetuskan
idea/gagasannya. Ini adalah realitas yang
pertama harus dipahami oleh seorang arsitek.
- Realitas kedua, dalam dunia awam tentang produk
arsitektur, sepertinya merespon positif keberdaan hasil rancangan seorang
arsitek yang disajikan dengan menggunakan aplikasi-aplikasi komputer . Mereka
melihat bahwa hasilnya lebih nyata, lebih hidup dan lebih dimengerti oleh kebanyakan klien
yang awam dengan proses merancang. Jadi hasil akhir produk karyanya arsitek sangat
penting untuk diketahui sekaligus dipahami oleh seorang klien, terlepas dari bagaimana
cara arsitek mempresentasikannya, apakah dengan menggunakan komputer atau
tidak, sepertinya tidak terlalu penting untuk diketahui secara detail oleh
klien. Pada titik inilah, telah merangsang seorang arsitek untuk menggunakan
aplikasi komputer, selain dapat mempercepat pekerjaannya, juga hasilnya lebih mudah
dipahami oleh seorang klien.
- Realitas
ketiga, sepertinya arsitek tidak tampak ‘Gaul’ jika tidak menguasai
teknologi-teknologi komputer, terutama soal aplikasi yang dapat mendukung
pekerjaanya. Jadi, cara pandang zaman sekarang, soal seseorang disebut arsitek ‘Tua’
atau ‘Muda’ itu telah bergeser dari yang dulunya diurut berdasarkan durasi
kepraktisiannya, menjadi dikelompokan berdasarkan kemampuannya dalam urusan
pandaitidaknya mengoperasikan
aplikasi-aplikasi komputer yang terkait dengan penyajian karya seorang arsitek.
Sepertinya realitas ini tidak ilmiah sama sekali, tapi itulah yang dinamakan
realitas, tak’harus bersandar pada
metodenya.
Untuk memahami lebih lanjut dari istilah ‘Interaksi”
dalam konteks komputer, dan ‘Merancang’ dalam konteks pekerjaan arsitek, dapat
kita lihat dari gejala kesejamanannya.
Dalam dunia komputer kita mengenal apa yang disebut
dengan Man-Machine Interface(MMI), yang
mulai diperkenalan sekitar tahun 70an, maka kemudian kita mengenal produk “antarmuka pengguna(user interface)”, sepuluh
tahunan kemudian, kita baru familiar dengan istilah “Interaksi Manusia dengan
Komputer(IMK)” atau human-computer interaction(HCI). HCI adalah; “…sebagai
disiplin ilmu yang berhubungan dengan perancangan, evaluasi, dan implementasi
sistem komputer interaktif untuk digunakan oleh manusia dan studi tentang
fenomena di sekitarnya,(Oky,undip).”
Jika kita memahaminya melalui perspektif kesejamanan abad 21, yang
disebut dengan sifat interdisipliner, dimana ilmu komputer bertemu dengan ilmu sosial
atau pisikologi.
Kemudian bagaimana dengan istilah ‘Merancang’ dalam arsitektur; “Perancangan
adalah usulan pokok yang mengubah sesuatu yang sudah ada menjadi sesuatu yang lebih
baik, melalui tiga proses mengidentifikasi masalah, mengidentifikasi metoda untuk
pemecahan masalah, dan pelaksanaan pemecahan masalah Dengan kata lain adalah pemograman,
penyusunan rancangan, dan pelaksanaan rancangan, (John Wade,1997)”
Dengan alasan bahwa HCI terkait dengan perancangan, evaluasi, dan
implementasi sistem komputer interaktif untuk digunakan oleh manusia dan studi
tentang fenomena di sekitarnya, maka bertemulah dengan Si Arsitek sebagai
pengguna yang sedang berproses untuk menciptakan karya arsitektur membutuhkan teknologi yang dapat mempermudah
kerjanya pada tahap pemograman dan penyusunan rancangan(sebetulnya tidak
terlalu jauh bedanya ketika zaman ‘Mesin gambar’ yang menggunakan ‘otot’,
sementara aplikasi interface semacam ini menggunakan ‘otak’). Setidaknya pada
titik ini manfaat aplikasi interface dapat membantu kemunculan karya arsitektur
sebagai sebuah karya yang dihasilkan melalui pemprosean, terlepas dari ada
tidaknya tindak kejahatan intelektual seorang arsitek yang memanfaatkan kemudahan
dan kebergunaan aplikasi ini untuk tindakan ‘Copas’ (copy-paste), kemudian ‘Edit’.
Ditinjau dari segi karakteristik perancang;
- Karakter gaya lama (Metoda lama), yaitu
seperti ‘blackbox’; Arsitektur itu terlahir dari sebuah proses kreatif tak terlihat seperti kotak gelap, unik(setiap
arsitek bisa beda); Hasil perancangan sangat tergantung intuisi, masukan
pengalaman, ilham, imajinasi, dilakukan dengan trial & error; Saat merancang sangat
bergantung kepada ketersediaan waktu, mood, imajinasi; Seringkali pikirannya
melompat-lompat, karena persoalannya dianggap rumit untuk ditransformasikan menjadi
hal yang terlalu sederhana.
- Kemudian ada
karakter gaya baru (Metoda baru), yaitu yang
dianggap lebih rasional, seperti ‘Glassbox’, cara ini umumnya menjadi basis
pengajaran di prodi Arsitektur pada umumnya, dimana; Penetapan tujuan,
variabel, dan kriteria, merancang ada di awal, sebelum beranjak ketahapan yang
lain; Kemudian diadakan proses Analisis, jika dianggap perlu bisa dilakukan pengujian,
sebelum mengambil kesimpulan; Semua
evaluasi tidak menggunakan gaya ‘Coba-coba’ seperti trial and error; Pemilihan
strategi ditetapkan dengan logis, biasanya sekuensial, lintas parallel,
kondisional, siklus ulang.
Walaupun saya tidak terlalu
percaya 100% dengan metode rasional seperti ‘Glassbox’ ini bisa sukses
menghasilkan karya arsitektur. Sekalipun itu diyakini oleh banyak prodi
arsitektur.
Saya termasuk penikmat karya
John ChristopherJones(1950) "A
Systematic Design Method", yang memberikan pencerahan bagaimana mengintegrasikan persoalan rasionalitas dan intuisi dalam merancang,
Baginya, desainer membutuhkan cara untuk dapat keluar dari fokus pada
ekspresi dan mode produksi dan mulai mengatasi definisi dari masalah yang harus dipecahkan.
Dia berkomentar bahwa;
"pekerjaan masa
depan desainer adalah untuk
memberikan substansi ide-ide baru
sementara menghilangkan pondasi fisik dan organisasi yang
lama. Dalam situasi ini, itu
adalah omong kosong untuk
memikirkan merancang sebagai kepuasan
persyaratan yang ada. kebutuhan baru tumbuh dan kebutuhan
tua mengalami
pembusukan ... "
Lalu apa hubungannya karakter seorang perancang(arsitek) dengan komputer?.
Dalam tulisan ini saya hanya membatasi hubungan karakter arsitek dalam
merancang dengan HCI. Salah satu kekuatan yang dapat diandalkan dari penggunaan
aplikasi komputer berupa softwear yang dapat membantu pekerjaan arsitek adalah
kemampuan’Memori’yang melebihi kemampuan memori manusia, file-file yang
terdigitasi dapat dilihat sewaktu-waktu jika dibutuhkan, sebagai bahan evaluasi
perjalanan proses merancang, tanpa harus ‘garuk-garuk’ kepala mengingatnya,
selain soal kecepatannya. Dengan pemahaman seperti ini, saya kira, kita bisa
menghindari pendapat yang sinis, menyatakan “Ini
Hanya Pekerjaan Drafter”.
Seperti kita membayangkan, apakah hanya orang yang sedang mengendarai
BMW saja yang boleh menggunakan GPS?, bagaimana jika anda mengendarai motor
untuk mencari alamat seseorang?, apakah tidak boleh menggunakan GPS?. Di Jogja,
seorang tukang becak, sudah terbiasa mengantarkan turis dengan panduan GPS,
yang terinstal di telepon genggamnya. Jadi saya kira, sudah sewajarnya seorang
arsitek berlomba adu cepat dengan tukang becak mengayuh semangat menuju kepada
peradaban ‘Human-computer interaction(HCI)’.
Kembali kepada hubungan karakter perancang dengan komputer, setidaknya
dapat kita cermati dari:
- Manusia memiliki keterbatasan untuk mengingat apa yang
sudah dilakukannya dalam proses merancang. Biasanya seorang arsitek, gemar
membuat sketsa-sketsa kecil untuk sekedar merekam apa yang terlintas dalam
imajinasinya. Tiap-tiap arsitek memang berbeda karakter dalam merancang,
tergantung dari bagaimana caranya untuk melihat realitas pada dirinya. Tidak
bisa dipungkiri bahwa terkadang, intuisi, ilham, atau imajinasi lebih cemerlang
memandang tujuan akhir dari perancangan karyanya, datang melintas dari alam
pikirannya, sehingga membutuhkan kecepatan untuk merekamnya menjadi sebuah
ide/gagasan yang lebih mirip dengan kenyataan nantinya. Disinilah sebetulnya
bagaimana aplikasi-aplikasi komputer dapat dipergunakan untuk mewujudkan
intuisi seorang arsitek yang datangnya tidak terkira, dapat sewaktu-waktu
keluar dari dalam benak arsitek dan harus segera di ‘save’, dan masuk kedalam
folder ‘Evaluasi’ berikutnya.
- Dalam hal sensitifitas bentuk dan warna yang
menyerupai alam nyata, aplikasi-aplikasi ini belum bisa tertandingi oleh
kemampuan pewarnaan seorang arsitek dalam ‘Sketsa perspektif’ yang sudah
direndering sekalipun, selain membutuhkan waktu yang relatif lebih lama, juga
tingkat akurasi kemiripannya sangat tergantung ‘mood’nya Si arsitek. Untuk
pekerjaan-pekerjaan bisnis yang membutuhkan kecepatan, saya kira, untuk era sekarang,
sudah ketinggalan zaman kalau menyalahkan ‘Mood’ belum keluar dari benak Si
arsitek, hanya untuk sekedar membuat gambar freehand 3D, misalnya.
- Pertentangan
itu terjadi biasanya ketika seorang arsitek terlalu menyandarkan permasalahan
perancangan kepada metode perancangan yang berbasiskan rasionalitas,
kecerdasan, atau berlandaskan kepada konsep. Kehadiran aplikasi-aplikasi
interface semacam ini dianggap menandingi kemampuan kecerdasannya. Jadi semacam
pergumulan batin; Disatu sisi gambar-gambar yang terdigitasi adalah produk
rasional sementara disisi lain ‘Merasa lebih cerdasnya,’ enggan tertandingi oleh komputer. Pergumulan
seperti ini, menurut hemat saya adalah pergumulan sia-sia, jika tidak ingin terlindas
oleh kemajuan zaman.
- Bagi arsitek
yang senang bereksperimen ‘Trial and error’, aplikasi-aplikasi semacam ini
sungguh sangat membantu memorinya, agar tak’tertelan penyakit ‘lupa’ yang
memang sudah ada dari ‘sononya’ melekat pada diri manusia. Selain itu, dari
segi kecanggihannya dapat diandalkan menggambarkan ide/gagasan yang mirip
dengan kenyataanya, sehingga dia bisa langsung melompat kepada pemikiran proses
pembangunannya dan masalah apa saja yang harus dihadapi pada tingkat
pelaksanaan. Akan lebih baik lagi jika didukung oleh softwear untuk membuat
RABnya, menjadi semangkin lengkap untuk mendekati kenyataanya. Selain itu, cara
pengoperasiannya yang ‘User friendly (ramah
dengan pengguna)’, atau mudah dioperasikan, dan memiliki sejumlah kemampuan
lain, yang menjadikan Si arsitek merasa ‘betah’ dalam mengoperasikan
program tersebut, bahkan untuk seorang pengguna pemula sekalipun.
Walaupun pada akhirnya kemajuan teknologi itu pasti memiliki
sisi-sisi dampaknya, disatu sisi berdampak baik; Untuk memepecepat pekerjaan
dan mempresentasikan hasil gagasannya dalam bentuk yang lebih mirip kenyataan; Juga
tak’mungkin dapat menghindari kenginan seseorang untuk mempelajari berbagai
softwear yang berkaitan dengan presentasi gambar arsitektur, baik itu dilakukan
oleh kalangan arsitek sendiri, atapun bukan dari kalangan arsitek, Seperti juga
dalam pandangan ilmu-ilmu positif, ‘Untuk menjadi arsitek itu, tidak harus
punya bakat’ menjadi arsitek, karena bakat sifatnya genetic, sementara
ilmu-ilmu positif menganggap semua orang bisa menjadi arsitek, karena dengan
pendekatan rasionalitasnya dapat dipelajari oleh semua orang. Demikian pula
dengan gejala kemajuan teknologi komputer, memungkinkan seorang yang hanya
lulusan ‘SMK’ dengan atau tanpa bakat, kemudian melakukan pekerjaan yang
diulang-ulang dapat menyajikan karya disain yang umumnya dilakukan oleh seorang
arsitek(dalam pandangan perancangan untuk menghasilkan komoditas), melalui
bantuan aplikasi-aplikasi softwear arsitektur yang terinstal didalam
komputernya. Sepertinya tidak ada yang salah, karena memang sekarang zamannya. Disisi
yang lain, patut dicurigai(banyak terjadi) sebetulnya, adalah tindakan seorang
arsitek yang melakukan kejahatan intelektual dengan memanfaatkan aplikasi-aplikasi
softwear arsitektur, ketimbang mengalihkan opini ke ‘Arsitek operator komputer’,
kemunculan istilah ‘Arsitek gadungan!’ atau ‘ngaku-ngaku arsitek!’.
Kesimpulannya :
- Perubahan cara menyajikan gambar
arsitektur yang ditandai dengan kemunculan teknologi berbagai program aplikasi komputer
di bidang arsitektur, yang menggantikan sketsa tangan(freehand maupun dengan
mesin gambar) seorang arsitek dalam memvisualkan gagasannya, telah membuka
kemungkinan pengguna komputer yang lebih luas. Hal itu terjadi karena program-program
ini telah belajar dan berangkat dari bagaimana karakteristik pemroses informasi
oleh seorang arsitek dalam merancang, termasuk didalamnya mempelajari bagaimana
struktur prilaku arsitek, pola alamiah, dan prasyarat phisik-fisiologis.
- Saat ini kehadiran komputer dengan program
aplikasi komputer di bidang arsitektur, sudah tidak dapat dilepaskan dari dunia
bisnis dan industri abad 21. Siapapun yang terutama bergerak dalam bisnis
perarsitekturan, dan dengan kemajuan teknologi yang selalu ‘Update’ dan Upgrade’,
yang selalu memecahkan masalah pengguna dalam operasi komputer untuk bisnis, pada
akhirnya akan mengarah kepada tidak perlu susah-susah memikirkan bagaimana cara
berinteraksi dengan komputer, tetapi yang penting justru bagaimana
mengoptimalkan komputer untuk dapat digunakan sebagai mesin yang membantu ‘Berpacu
dalam dunia bisnis’, seperti analogi menggunakan mobil atau motor, kita tidak
perlu memikirkan bagaimana cara mesin itu bekerja.
- Dalam konteks ‘Human
Information Processing’ yang ada dalam HCI, pada akhirnya semua arsitek, suka
tidak suka akan menggunakan berbagai program aplikasi untuk membantu proses
perancangannya, karena pendekatan karakteristik arsitek sebagai pemores
informasi, adalah basis dari kebergunaan/kemanfaatan aplikasi-aplikasi ini bagi
seorang arsitek, seperti untuk mengetahui dan mempelajari model-model
arsitektur kognitif, teori tentang memori, persepsi, kemampuan motorik, dan
motivasi. Sehingga kehadirannya tidak mungkin ditolak, kehadirannya semata-mata
untuk keamajuan teknologi komputer, kemudian diterima oleh dunia praktis/bisnis
dan memberikan umpan-balik atas kemajuannya dan bermanfaat bagi kemajuan dunia praktis/bisnis.

Mudah-mudah tulisan ini menjadi semacam pencerahan dan
tidak mengurangi kreatifitas kita dalam merancang, dengan atau tanpa
menggunakan program aplikasi, atau mau menggunakan motede merancang seperti
apa, semua kembali kepada bagaimana cara kita melihat realitas diri kita
sendiri dalam setiap/sedang melakukan proses perancangan arsitektur.