oleh : Eshciesiiwallakatuk
Seperti juga berbahasa,
melangkah, ialah upaya
seorang arsitek untuk semakin menyatakan dan menyempurnakan kemanusian untuk tujuan sebesar-besarnya pembangunan
manusia.
Nama kelompok arsitek “TYIN tegnestue Architects,” Nampaknya tidak terlalu familiar di dikalangan penikmat seni bangunan
yang ada di Indonesia, dibandingkan dengan gegap gempitanya membincangkan gedung
‘Taipe 101’, dengan
jumlah lantai 101 dirancang oleh C.Y. Lee, arsitek Taiwan lulusan Cheng Kung
University, yang kemudian kalah pamor
dengan ‘Burj Khalifa’,
gedung pencakar langit di Dubai, Uni Emirat Arab, dengan ketinggian 828 m (2717
ft), dirancang oleh Adrian Smith, yang bekerja dengan Skidmore, Owings and
Merrill.
“TYIN,” berdiri sejak tahun 2008, fokusnya memang untuk membangun proyek-proyek di daerah miskin dan terbelakang, seperti di Thailand, Sumatera Uganda, dan Norwegia. Sebuah
panggilan berarsitektur untuk mencari Solusi, di mana arsitektur dipahaminya sebagai segala sesuatu yang memiliki tujuan luhur, Dengan pelibatan secara
aktif dari penduduk setempat dimana
proyek itu dibangun, mulai dari proses disain hingga pembangunannya. TYIN, dengan segala kemampuannya membangun kerangka kerja berpikir untuk saling tukar pengetahuan dan keterampilan. Semua bahan/material yang digunakan dalam proyek-proyek TYIN yang dikumpulkan dari sekitar
lokasi proyek, atau dengan cara membelinya dari para pedagang lokal.
TYIN Studio dimotori oleh Andreas G. Gjertsen dan Yashar Hanstad, yang berkantor pusat di kota Trondheim Norwegia. Tidak heran
jika TYIN telah memenangkan beberapa penghargaan internasional dan proyek-proyek mereka telah dipublikasikan dan dipamerkan di seluruh dunia, walaupun bukan gedung pencakar
langit yang mereka rancang.
Katakanlah
proyek “Soe Ker Tie Bamboo Houses,” Dibangun Untuk anak Yatim dari para Pengungsi Karen, di daerah perbatasan Burma dan Thailand. Dengan proyek
ini, TYIN membangun aliansi strategis yang dapat meningkatkan kehidupan bagi orang-orang dalam situasi sulit. Melalui kerjasama yang luas dengan penduduk setempat, dan saling
belajar, dengan harapan bahwa proyek ini menjadi sumbangan kecil
membangun manusia yang terkucilkan dari dunia luar.
Pekerjaan
ini dimulai dari sebuah perjalanan pada musim
gugur tahun 2008 TYIN perjalanan
ke Noh Bo, sebuah desa
kecil di
perbatasan Thailand-Burma. Mayoritas penduduk
adalah pengungsi Karen, banyak dari
mereka adal anak-anak yatim akibat peperangan. Sewbelumnya
memang Ole Jørgen Edna dari Levanger, Norwegia, yang telah memulainya dengan
membangun panti asuhan di Noh Bo(2006), kemudian semakin hari semakin membutuhkan lebih banyak asrama. Dari awalnya hanya untuk berlindung 24 anak, hingga panti asuhan membutuhkan hampir 50 rumah.
Sebuah Konsep arsitektur berbasiskan
kearifan lokal dimulai dari “Bagaimana menciptakan
suasana atau
situasi yang normal bagi anak-anak panti
asuhan. Dalam proyek ini, setiap anak diupayakan untuk memiliki ruang pribadi mereka sendiri, rumah untuk tinggal dan lingkungan
di mana mereka bisa berinteraksi dan bermain. Satu Unit bangunan untuk rumah bagi enam orang anak.
Karena ekspresinya seperti kupu-kupu, masyarakat menyebutnya hiasan ‘Ker Soe Tie’. Dengan teknik tenun bambu yang digunakan di sisi dan belakang fasad adalah sama dengan yang mereka pahami seperti yang digunakan untuk rumah-rumah dan kerajinan lokal setempat. Semua bambu didapat dari wilayah sekitarnya. Bentuk atap yang miring satu arah memungkinkan optimalisasi ruang bagian dalam dari ‘Soe Ker Tie Bamboo Houses’, ventilasi alami, pada saat yang sama atap juga berfungsi sebagai pengumpul air hujan. Hal ini membuat daerah sekitar bangunan lebih berguna selama musim hujan, dan memberikan kemungkinan untuk mengumpulkan air untuk menghadapi musim kemarau.
Karena ekspresinya seperti kupu-kupu, masyarakat menyebutnya hiasan ‘Ker Soe Tie’. Dengan teknik tenun bambu yang digunakan di sisi dan belakang fasad adalah sama dengan yang mereka pahami seperti yang digunakan untuk rumah-rumah dan kerajinan lokal setempat. Semua bambu didapat dari wilayah sekitarnya. Bentuk atap yang miring satu arah memungkinkan optimalisasi ruang bagian dalam dari ‘Soe Ker Tie Bamboo Houses’, ventilasi alami, pada saat yang sama atap juga berfungsi sebagai pengumpul air hujan. Hal ini membuat daerah sekitar bangunan lebih berguna selama musim hujan, dan memberikan kemungkinan untuk mengumpulkan air untuk menghadapi musim kemarau.
Gbr.1.Potongan Bangunan; Memperlihatkan dimensi ruang dalam bangunan yang dapat dihuni oleh enam orang anak per unit bangunan. |
Gbr.3:Ini adalah ruang dalam bangunan yang cukup representative
bagi enam orang anak. Ekspresi komposisi bambu dengan bahan lainnya bergaya lokal
untuk pembahasan ekspresi baru.
|
Gbr.5: mimik kecerian anak yang diwadahi oleh lingkungan baru untuk mereka tumbuh secara normal, sebuah karya arsitektur yang memanusiakan manusia |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar